test

Afik Achmad Syafi'i : Kenangan RJ di Wonokerto

Pengalaman ini adalah dari teman kami Afik Achmad Syafi'i 
ditulis pada dindingnya Selasa, 28 Mei 2013 sekitar puluk 10.00, semoga berkenan dan menginspirasi kebaikan bagi kita dan sesama. 
Jika Anda punya pengalaman yang ingin di share boleh kirim kepada kami.
Wonokerto , kenangan RJ yang tak terlupakan..

Sore itu kami berangkat menuju tempat acara jam 16.30 WIB. Ya, kami takut tak dapat tempat di tengah lapangan,dan pula kami tak faham jalan menuju kesana, karena kami belum pernah menginjakkan kaki di kecamatan bantur.

Selama perjalanan kami sempatkan tuk membaca setiap papan nama yang terpampang di tepi jalan, agar kami tahu, sampai manakah perjalanan kami. Tak terasa satu jam berlalu, kami sampai di desa suwaru kecamatan Pagelaran.

“wah dah deket ni, setelah jembatan kita dah nyampe Wonokerto”, kataku pada temanku.
“lhoh iya ta..?”, jawab temanku.
“iya, tadi aku dah di sms temen”.

Ternyata memang benar adanya, setelah melewati jembatan, nampak sudah umbul – umbul RJ nya. Sesampainya di tempat parkir sepeda, ternyata masih sepi. Temanku mengajak untuk sholat maghrib dulu, tapi kami tak menemukan masjid pinggir jalan, sehingga perjalanan kami teruskan sampai dusun sebelah, dusun Wonogiri (sebelah selatan Wonokerto). Di situ kami menemukan masjid pinggir jalan dan kamipun sholat di masjid itu.

Usai sholat, kami kembali ke arah Wonokerto untuk mencari warung nasi, maklum saat itu kami belum buka puasa. Akhirnya ketemu juga dengan warung soto lamongan di utara tugu karang itu. Tanpa ragu kami langsung masuk dan memesan dua mangkuk soto dan dua gelas teh hangat. Tanpa di sangka kami juga bertemu dengan salah satu crew batu TV yang memakai jaket tim mulimedia RJ. Walau tanpa bertegur sapa, kami tahu itu orang batu TV.

Kami tak pedulikan itu, kami tetap lahap makan sotonya, tiba – tiba datang tiga orang perempuan muda dengan hanya mengenakan celana pendek di atas lutut juga masuk kedalam warung tuk membeli gorengan. Mereka bertanya – tanya,
“Ada apa sih kok rame banget”, kata perempuan berjaket garis – garis
“gak tau” jawab perempuan satunya yang hanya memakai kaos ketat

Dalam hati kami berkata, “ ni cewek aneh banget, emang gak baca ya , kan banyak umbul – umbul”

Kami agak risih melihatnya, makan kami percepat dan kemudian keluar warung dengan sudah membayar tentunya.
Setelah itu kami menuju parkiran di SDN Wonokerto 02. Ada yang unik juga disini, tukang parkir kami mengenakan kaos putih bertuliskan “Aku Lulus”, maklumlah, kemaren hari jumat adalah pengumuman kelulusan adik – adik kami yang SMA. Setelah memarkir motor, kami berjalan menuju lokasi di lapangan Wonokerto, tanpa di sangka di tengah perjalanan kami mendengar suara orang uluk salam kepada kami,
“assalamualaikum”
“waalaikumsalam”, sontak kami serentak menjawab.

Kami tercengang menengok kearah kiri kami, ke arah sumber suara itu, ternyata beliau adalah mbah Agus. Beliau lantas berdiri dan menyalami kami sambil bertanya,

“ten pundi mobile ?” (dimana mobilnya ?), tanya mbah Agus.
“boten beto mobil mobil mbah, beto sepedah” (tidak bawa mobil mbah, bawa sepeda)

Akhirnya kami melanjutkan perbincangan di depan toko tempat mbah Agus memarkir ontel kesayangannya.

“lha ten pundi sepedahe mbah ?” (lha dimana sepedanya mbah ?)
“lha niki” (lha ini) sambil menunjuk kearah sepeda ber bendera RJ nya.
“daleme pundi mbah?” (rumahnya mana mbah?)
“kulo blimbing” (saya blimbing), jawab mbah Agus dengan logat maduranya yang kental.
“jenengan pundi?” (anda mana?)
“kulo poncokusumo mbah”(Saya poncokusumo mbah),
“oooo.... nggih kulo semerap poncokusumo” (oooo... iya saya tahu poncokusumo),
“brangkat jam pinten wau mbah ?” (berangkat jam berapa tadi mbah?)
“jam tigo niki wau, mboten mandeg blas. Maghriban pun ten mriki” (jam tiga itu tadi, tidak berhenti sama sekali, maghrib sudah disini)
“Lha jenengan ? (lha anda?)
“jam setengan gangsal mbah” (jam setengan lima mbah)

Kemudian beliau mengeluarkan minyak wangi berbotol kecil dari sakunya dan mengusaapkan ke kedua tangan kami..

Akhirnya kami mengakhiri perbincangan dengan menanyakan letak masjid, dan beliau menunjukkan dengan tangannya,
“lha niku celak, medal lapangan saged” (lha itu dekat, lewat lapangan bisa),
“kulo tak tem masjid riyin nggih mbah, ngrantos isya” (saya ke masjid dulu ya mbah, nunggu isya),
“oo.. nggih monggo, kulo tak ngrantos habaib” (oo.. iya silahkan, saya tak nunggu habaib)

Kamipun berjalan meninggalkan mbah Agus menuju masjid, tenyata belum isya, kami lantas mencari tempat di tengah lapangan dan menggelar alas. Akhirnya adzan isya terdengar juga, kami lalu menuju masjid dan sholat berjamaah isya. Singkat cerita, kami mengikuti pembacaan maulid simthud duror seperti biasa.

Di tengan – tengah acara, hujan turun perlahan kemudian lebat. Sontak semua jamaah membuka payung, menggelar mantel, bahkan ada yang tetap khusyu’ tanpa penutup apapun, kami yang tidak membawa payung, tidak membawa mantel, mengenakan sorban kami untuk berlindung dari hujan, makin lama makin lebat, basah sudah gamis, sarung, dan sorban kami. Hujan belum berhenti juga ketika mahallul qiyam berlangsung.

Sampai pembacaan kitab Syamailirrosul oleh Habib Taufik bin Muhammad Baroqbah pun hujan tetap dengan lebatnya. Habib taufik tak henti – henti membesarkan hati kami untuk tetap khusyu’ dalam hujan. Beliau mengatakan “Atsawabu ‘ala qadritta’ab” yang artinya, pahala itu tergantung tingkat kesulitan ketika kita menjalankan suatu amal.

Hujan masih berlangsung ketika Ust.H. Salim Noor,Lc. Memberikan mauidloh hasanahnya. Menjelang akhir majelis, hujan agak reda. Kami pulang dengan kondisi basah kuyup, hingga sampai di rumah jam setengah dua dini hari.

Subhanalloh..
Banyak pengalaman berharga yang kami dapat dalam safari majelis maulid watta’lim riyadlul jannah di lapangan desa Wonokerto kecamatan Bantur kali ini. Mulai dari perjumpaan dengan tiga cewek bercelana pendek, kami belajar bagaimana menutup aurat dengan benar sesuai syariat agar tidak dilecehkan orang lain.

Kedua, kami bertemu tukang parkir berkaos putih bertulis aku lulus, di sini kami belajar bagaimana merayakan sebuah kebahagiaan dengan cara islami, corat – coret baju tentu bukan hal positif. Baju itu mungkin akan lebih bermanfaat ketika kita berikan pada yang membutuhkan daripada di coret kemudian tak di pakai lagi. Ketiga, kami bertemu mbah Agus, sosok unik di RJ, riyadloh yang beliau lakukan yaitu hadir majelis dengan mengayuh sepeda ontel, tentu membawa karomah dan keberkahan tersendiri.

Semangat beliau di usia senja harus kami tiru, harus kami pupuk. Kami yang muda tidak boleh kalah semangat dengan yang berusia senja. Keempat, mauidloh hasanah yang sangat menyentuh, tentang berbakti kepada orang tua. Muhasabah di akhir majelis, membuat kami meneteskan air mata, seberapa banyak dosa kami kepada orang tua.

Subhanalloh..
Tak kan terlupakan
Wonokerto penuh kenangan...
 
Afik Achmad Syafi'i : Kenangan RJ di Wonokerto Afik Achmad Syafi'i : Kenangan RJ di Wonokerto Reviewed by Imron Mahmudi on 21.59 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.